Jatuh Untuk Bangun
Jatuh untuk Bangun
Oleh : Nhureel_
Semilir angin sore ini membuat ujung jilbabku melambai indah. Aku tengah berkutat dengan sebuah jurnal kenangan yang masih kusimpan meski delapan tahun telah berlalu. Di atas padang ilalang yang menghampar sejauh mata memandang ini, aku kembali mengenang kisah yang terjadi antara aku dan dia. Meski bukan kenangan indah yang akan aku bagikan, tetapi ini tetaplah kenangan, sesuatu yang pantas kita hargai kehadirannya.
"Abil, apa cita-citamu setelah besar nanti?" Kak Sandy menatap netraku, sementara aku sibuk membersihkan daun-daun kecil yang tersangkut di rambutnya atas ulahku sendiri. Selisih usia kami hanya tiga tahun dan saat itu aku baru menginjak kelas satu Sekolah Dasar.
"Abil ikut Kak San aja," jawabku yang masih berdiri membersihkan kepalanya. Kak Sandy hanya diam menurut tanpa banyak bergerak. Dia duduk bersila di atas rumput ilalang yang mulai memanjang itu.
"Kok gitu?" Kini, dia mendongak, menghentikan aktivitasku yang akan selesai sebentar lagi. Mau tak mau, aku menunduk melihatnya.
"Bial Abil baleng telus sama Kak San." Meski usiaku sudah menginjak tujuh tahun, aku masih belum bisa melafalkan huruf R.
"Kamu kapan bisa bilang R-nya, sih?" Kak San aja udah bisa bilang R semenjak masuk TK," protesnya.
"Lidah Abil suka melintil kalo bilang lllrr." Dengan susah payah aku mengeja huruf R, tapi tetap saja pengucapannya tidak sempurna. Karena rambut Kak San sudah bersih dari daun-daun kering itu, aku ikut bersila di hadapannya. Aku yang sebelumnya menunduk untuk bisa melihat wajah Kak San, kini harus mendongak karena posisi kami sama-sama sedang duduk.
"Memangnya cita-cita Kak San apa?" tanyaku.
"Kak San mau jadi pilot." Jawaban Kak San membuatku menghela napas. Menyadari ekspresi wajahku, pria itu memiringkan kepalanya. "Kenapa, Bil?" herannya.
"Abil gak suka pesawat. Jadi, Abil gak jadi, deh, ngikutin cita-cita Kak San," ucapku dengan nada menyesal.
"Tapi gak papa. Meskipun cita-citanya beda, kita bakalan tetep baleng-baleng, kan?" Mataku berbinar menatapnya yang hanya tersenyum tipis. Tangan Kak San terulur untuk merapikan poni yang keluar dari jilbab pink milikku kala itu.
•••
"Kak San tungguin Abil!" Teriakku sambil menenteng sepasang sepatu yang belum sempat kukenakan. Kami tengah melakukan balap lari dari sekolah menuju rumah.
Braakk!!
"Aw!"
"Bil, gak papa?" Kak San yang sudah berada jauh di depan sana menghampiri lalu menekuk lutut di hadapanku. Aku tersenyum jahil, kemudian berlari setelah menyempatkan diri untuk menendang tulang keringnya. Telingaku sempat mendengar Kak San meringis, tetapi aku tidak peduli. Aku terus berlari sambil tertawa karena berhasil mengerjainya.
Karena lomba lari itu dimenangkan olehku, Kak San wajib menemaniku mengerjakan PR Matematika di padang ilalang tempat kami bermain. Dengan telaten dia mengajarkanku rumus-rumus yang membuat mata ini langsung mengantuk, tetapi azan asar sedang berkumandang kala itu.
"Abil mau salat asar dulu, deh. Nanti dilanjut," kataku.
"Oke. Kak San tunggu di sini, ya?"
"Loh, emangnya Kak San gak mau ikut salat?"
Kak San hanya menunjukkan senyuman manisnya sebagai jawaban. Tak mau ambil pusing, aku segera bergegas menuju rumah yang jaraknya hanya sekitar seratus meter dari sana. Kata Ummi, aku tidak boleh bolong salat wajib, apalagi usiaku sudah hampir menginjak sepuluh tahun.
Menurutku, waktu cepat berlalu hingga tak terasa Kak San sudah mau masuk SMA sementara aku baru mau masuk SMP. "Sebel, deh. Masa aku baru mau masuk SMP, Kak San udah mau lulus aja?" Aku mencebik, lalu Kak San mengusap pucuk kepalaku lembut.
"Kita, kan, masih bisa main kalo udah pulang sekolah, Bil," jawabnya.
Benar kata Kak San. Kami tetap bisa bermain kejar-kejaran, menangkap kupu-kupu, memetik bunga dan menyaksikan senja bersama-sama. Bukannya Kak San tidak pernah hermin dengan teman lelakinya, hanya saja dia lebih memprioritaskanku. Dia juga sempat menolak saat kuajak bermain di taman bunga, tetapi aku terus merengek dan akhirnya dia memenuhi keinginanku dengan senang hati.
"Kak San, kata Ummi, Abil gak boleh terlalu deket sama lawan jenis. Katanya, sekarang Abil udah besar," aduku.
"Nasehat Ummimu baik, Bil." Dia tetap Kak San yang bijaksana, meski waktu sudah lama berlalu.
"Kok, Kak San belain Ummi, sih? Emangnya Kak San gak mau main bareng Abil lagi?" Nadaku terdengar merajuk.
"Bukan begitu. Ummimu bilang harus jaga jarak, bukan meninggalkan."
"Kata Ummi lagi, sekarang rambut Abil gak boleh keluar-keluar dari jilbab, apalagi keliatan sama Kak San. Abil bingung, biasanya, kan, Kak San yang benerin rambut Abil. Kok sekarang gak boleh?"
"Sekarang, kan, Abil udah mulai dewasa. Kalo rambut Abil keliatan sama laki-laki, nanti Abil dapet dosa." Kak San memberikan penjelasan.
"Tapi Ummi suka buka kerudung kalo di rumah. Padahal ada Abi di sana. Abi, kan, laki-laki."
"Itu beda, Abil. Kalo laki-laki itu berstatus sebagai suami bagi perempuan tersebut, maka tidak akan menjadi dosa." Mungkin karena usia kami berbeda, Kak San lebih tau hal-hal seperti itu daripadaku.
"Kalo gitu, Kak San mau gak, jadi suami Abil?"
Pertanyaanku itu tak lantas mendapatkan jawaban, sampai akhirnya usiaku sudah naik menjadi 15 tahun dan aku mulai mengerti akan pertanyaanku yang secara tidak langsung melamarnya. Aku menjadi malu sendiri ketika mengingat itu.
•••
"Kak San mau lanjut kuliah di mana?" Kala itu, aku tengah mengukir namaku dan namanya di atas tanah menggunakan ranting kayu yang kutemukan di jalanan. Ada jarak yang lebih dari setengah meter ketika kami duduk bersebelahan. Kak San tak lantas menjawab. Ketika aku menoleh, dia tengah menatap senja yang mulai terbenam. Aku kembali menunduk, menyelesaikan ukiran nama kami di sana.
"Bil?"
"Ya?" Aku kembali menoleh, tetapi Kak San masih setia memandangi senja di ujung barat sana. "Kak San suka sama kamu," lanjutnya. Aku terkesiap, mataku mengerjap kaget. Ada debaran kencang di dadaku saat Kak San mengatakan itu.
"Tapi, Kak San tau kita tidak akan bisa bersama." Tatapan sayu Kak San berlabuh di netraku. Tak bisa dipungkiri bahwa aku kecewa ketika mendnegar lanjutan ucapan Kak San itu. Kenapa tidak bisa bersama jika kami saling mencintai?
"Jodoh itu ada di tangan Allah. Dia yang menentukan apakah kita bisa bersama atau tidak," jawabku tanpa melihatnya.
"Jodohmu memang ada di tangan Allah, tetapi jodohku ada di tangan Yesus."
Deg!
Aku menoleh dengan mata membulat. Apa maksudnya?
"Kita berbeda keyakinan, Bil." Kak San menunduk. Aku memang tidak pernah bertanya secara langsung tentang agamanya. Tetapi, kenapa dia bisa tau hukum aurat wanita dalam Islam?
"Kenapa Kak San baru bilang sekarang?"
"Kak San takut kamu pergi. Kak San takut ada jarak yang lebih panjang di antara kita."
"Lalu, sekarang Kak San tidak takut kalau Abil pergi?"
"Sekarang, Kak San yang akan pergi. Karena itulah Kak San mengatakannya sekarang."
•••
Aku menatap jendela kamarku, di mana aku bisa menyaksikan persiapan keluarga Kak San yang hendak pindah rumah. Pria jangkung yang terkesan kurus itu tengah memasukkan koper-koper besar ke dalam bagasi mobil. Ummiku juga ada di sana. Sebenarnya, aku juga disuruh Ummi untuk berpamitan kepada keluarga Kak San, tetapi aku beralasan sedang kurang sehat.
Tampaknya, semua sudah siap. Mobil pertama sudah pergi sementara mobil milik Kak San masih bertengger di halaman rumahnya. Dia mendongak ke arahku dan tatapan kami bertemu saat itu. Dia tersneyum hangat dan aku membalasnya tak kalah hangat. Sebilah belati tak kasat mata terasa menancap di dadaku. Kak San melambaikan tangan, lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia pergi dan aku tidak tau kapan dia akan kembali. Atau mungkin tidak akan pernah?
Ketika setetes cairan bening itu menghampiri pipi, sepasang tangan merangkulku untuk bersandar di pangkuannya. Aku memeluk pinggangnya erat. "Ummi, Abil kecewa ...," selaku di tengah isakan. Ummi mengelus kepalaku lembut.
"Abil kecewa karena Abil sudah lebih dulu membangun cinta dengan manusia, tanpa jatuh cinta terlebih dahulu kepada Allah, Dzat Yang Maha Mencintai." Tangsiku pecah ketika mendengar kalimat itu.
"Ummi ...," rengekku sambil terus menenggelamkan wajah di pangkuan Ummi.
"Sstt ... udah, udah. Masa Abil nangis cuma gara-gara cinta monyet, sih?" ledek Ummi. Aku tau Ummi sedang mencoba untuk menghiburku. Sejak saat itu, Ummi membimbingku untuk jatuh cinta kepada Sang Waduud. Katanya supaya kelak ketika aku hendak membangun cinta dengan cipataan-Nya, tidak akan melebihi cintaku pada-Nya.
•••
Sejak kepergian Kak San, aku tidak pernah lagi dekat dengan yang namanya pria. Bukannya tidak mau ataupun trauma, tetapi aku disibukkan dengan semua kegiatan sekolah dan akupun sudah membatasi hati untuk tidak terlalu baper. Barulah ketika aku sudah mengejar gelar S2, aku mulai dekat dengan seseorang yang menjabat sebagai ketua Remaja Masjid Kampus. Mungkin inilah takdir Allah. Dia bukan pria yang mudah jatuh kepada pesona wanita, aku mengaguminya. Sebatas mengagumi. Dia bertutur kata lembut dan sopan, tidak pernah sedikitpun terpancar raut kesal dan murung di wajahnya.
"Bil, nanti malem ke rumah Kak Gina, ya!" pinta Hana ketika kami tengah berada di kantin.
"Ada acara apa, Na?"
"Kak Gina minta aku buat nemenin dia. Katanya mau ketemu calon suami dan mertuanya. Paman sama Bibi lagi gak ada di rumah. Aku gak mau kalo cuma berduaan sama Kak Gina, nanti bosen. Kamu ikut, ya?" Kak Gina yang dimaksud Hana adalah kakak sepupunya Hana yang menganut agama Katholik seperti ibunya.
"InsyaAllah, deh, gak bisa janji. Soalnya nanti sore dan mungkin sampe malem, aku ada rapat BEM." Mendengar jawabanku, Hana hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan.
Ucapanku benar-benar terjadi. Aku baru bisa keluar ruangan rapat sekitar jam delapan malam dan seseorang menahan sepuluh menit waktuku ketika hendak bergegas menuju rumah Kak Gina.
"Abil, minggu depan ... saya ada niat untuk bertemu orang tuamu." Setelah beberapa kalimat basa-basi, akhirnya Kak Fatih menyampaikan tujuan utamanya menahan kepulanganku. Aku tersenyum melihat kegugupan di wajahnya. Oh Allah, jika memang dia jodohku, akan kuikhlaskan sekeping masa lalu yang masih tersemat dalam balutan memori. Aku sama sekali tidak berharap kepada Kak San lagi, tetapi yang namanya cinta apalagi sudah bersama sejak belia, kepingan memori itu akan tetap hadir meski tak lagi membuatku meratap.
Aku langsung bergegas ke rumah Kak Gina setelah memberikan jawaban kepada Kak Fatih. Saat turun dari motor, orang yang pertama menarik perhatianku adalah Kak San. Tidak mungkin, bukan? Apakah karena aku telah menerima laki-laki lain dan hati ini masih belum ikhlas? Mungkin karena itulah aku berhalusinasi.
"Abil?" Suara itu menyadarkanku.
"Eh, ini benar Abil? Apa kabar, sayang? Udah lama gak jumpa." Bunda menghampiriku yang masih mematung, lalu memberikan pelukan hangatnya. Tiba-tiba sebuah kalimat langsung terngiang begitu saja dalam pikiranku. 'Katanya mau ketemu calon suami dan mertuanya'.
"Aku baik. Bunda apa kabar?" tanyaku setelah pelukan kami terlepas.
"Bunda baik, tentu saja." Wanita paruh baya itu mengelus-elus kedua lenganku, seolah tidak percaya bahwa aku bisa tumbuh sedewasa ini.
"Bun ... ." Kak San menginterupsi gerakan Bunda. Dia menghampiri kami lebih dekat dan memberi kode—yang sama sekali tidak kumengerti—kepada Bunda.
"Oh, iya. Maaf, ya, Abil, kita harus pulang lebih cepat. Tadi Ayahnya San baru pulang dari Semarang. Udah tiga tahun dia dinas di sana, Bunda kangen ...," katanya terdengar manja. Aku setengah terkekeh mendengarnya. Sebelum benar-benar masuk mobil, Bunda berjanji akan berkunjung ke rumahku untuk bersilaturahmi. Sementara Kak San, dia masih terlihat berwibawa dengan lengan kemeja yang digulungnya sebatas sikut. Dia berpamitan dan melemparkan senyuman manisnya sebelum mengendarai mobil tersebut.
Ya Allah, Engkau benar-benar Maha Baik, Maha Adil. Engkau datangkan laki-laki lain dalam hidupku sebelum aku tau bahwa Kak San telah dimiliki dan memiliki yang lain juga. Tidak salah aku telah jatuh cinta kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.
•••
"Abil?" Ummi masuk ke kamarku setelah mengetuk pintu beberapa kali. Di tersenyum, lalu duduk di sampingku yang tengah bersila di atas kasur.
"Ada apa, Mi?" tanyaku.
"Kamu ganti baju, sana! Liat siapa yang dateng di bawah," suruh Ummi. Saat itu aku tengah mengenakan piyama tidur karena ini sudah pukul sembilan malam. Namun, akhirnya aku mengganti pakaian dengan gamis maroon yang sebelumnya kupakai—sembari menerka-nerka, siapa gerangan yang berkunjung ke rumah malam-malam begini? Padahal beberapa waktu lalu, aku baru saja selesai membereskan ruang tamu.
Ternyata, malam ini ada dua buah keluarga yang berkunjung ke rumahku. Keluarga kedua adalah keluarga Kak San yang berjumlah enam orang itu. Ada Bundanya, Ayahnya, Abangnya, kedua Adiknya dan Kak San sendiri. Ada yang berbeda dari keluarga ini. Mulai dari Bunda dan Aini yang mengenakan kerudung. Kenapa aku baru menyadari bahwa ketika bertemu Bunda di rumah Kak Gina, Bunda mengenakan pashmina berwarna mocca waktu itu.
Bunda bercerita bahwa keluarganya sudah berpindah kepercayaan sejak dua tahun lalu, kecuali Bang Sam—Abangnya Kak San. Aku ikut bahagia mendengar kabar menakjubkan itu. Bola mataku melirik Kak San, tidak percaya bahwa saat ini iman kami sudah sama. Jodoh kami berada di tangan Tuhan yang sama, meskipun kami sama-sama tidak berjodoh satu sama lain. Tetapi, ada yang aneh dengan pria itu. Dia tidak banyak bicara dan cenderung gugup, terbukti dari kesepuluh jarinya yang saling menggenggam dan sesekali diremas. Kak San tidak banyak berubah, kebiasaannya ketika gugup masih sama.
Tiba-tiba Ayahnya Kak San memberikan sebuah undangan pernikahan. Aku menebak bahwa itu adalah milik Kak San dan Kak Gina. Oh Allah, kenapa masih ada setitik rasa di hati ini ketika mengetahui bahwa dia tak lagi bisa dimiliki? Namun, seruan Ummi yang sedang membuka undangan itu sukses membuatku terheran-heran.
"Wah ... Bang Sam udah mau nikah!" seru Ummi, terlihat antusias. Jelas-jelas Ummi mengatakan 'Bang Sam', bukan 'Kak San'. Bunda menyadari ekspresi terkejutku, lalu memberi penjelasan bahwa malam itu, Bang Sam tidak bisa datang untuk mendiskusikan beberapa urusan pernikahannya. Jadilah Kak San yang menemani Bunda untuk menemui Kak Gina.
Kemudian, Ayahnya Kak San merubah suasana menjadi lebih serius. Dia menyenggol lengan Kak San yang tengah tertunduk dalam. Ayah Kak San bilang, ada yang ingin Kak San sampaikan kepada kami sekeluarga. Lalu, meluncurlah kalimat demi kalimat yang membuatku membeku kaku di tempat. Ummi menggenggam tanganku erat, seakan paham bahwa aku sedang tidak percaya diri. Kala itu, sesuatu seolah menghimpit paru-paruku hingga aku tidak mendapatkan celah untuk mengambil oksigen.
Kak San mengkhitbahku! Perlu kuulangi? Kak San mengkhitbahku! Oh Allah, aku tidak tega melihat binar di matanya yang menanti jawabanku. Ada rasa sakit ketika mengetahui fakta bahwa aku tidak bisa menerima niat baiknya. Nyatanya, masih ada secercah rasa yang tertinggal di hatiku. Tetapi, sebagian besar hatiku telah mengikat janji dengan Kak Fatih beberapa jam lalu. Kalian tau? Aku baru saja menerima khitbah Kak Fatih, tepat beberapa saat sebelum keluarga Kak San datang berkunjung.
"Maaf, Kak San." Belum juga aku menyelesaikan kalimatku, binar di mata Kak San sudah lebih dulu menghilang. Hatiku teriris melihatnya. Namun, aku mencoba untuk tegar, kuserahkan semuanya kepada Allahu Rabbul 'Aalamiin.
"Abil sudah lebih dulu menerima khitbahan lelaki lain." Saat kuselesaikan kalimat yang sempat terjeda itu, bahu Kak San merosot, bersamaan dengan helaan napasnya yang terdengar berat. Maaf, Kak San. Nampaknya tibalah sampai di sini, kisah yang sempat kita bangun di masa lalu.
•••
Tasikmalaya, 14 Juni 2020
Comments
Post a Comment